Selasa, 29 April 2014


NAMA : CHANDRA JUNITA
2013
Pengalaman perpisahan kelulusan kelas3
SMK N 1 SELONG
CHANDRA JUNITA
Sebelum saya menceritakan pengalaman saya , saya akan memperkenal kan diri terlebih dahulu. Nama saya Chandra junita, saya lahir di pancor 10 juni 1998. Umur saya sekarang 15 tahun. Saya bersaudara 4.
CHANDRA JUNITA
Pengalaman yang sangat mengesan kan bagi saya adalah waktu perpisahan pelepasan kelas 3. Waktu itu saya ikut serta dalam acara tersebut.
Sebelum acara di mulai , jauh jauh harii saya dan teman teman mempersiap kan acara tersebut agar lebih menarik dan terkesan .
Waktu pertama latihan , saya ikut dalam bernyanyi, waktu itu saya berjumlah 20 orang, diambil 3 sampai 4 orang perkelas , mewakili teman-teman nya.
Waktu itu saya berada di kelas 9 B . aduhhhhhhhhh… kelas yang terkenal ribut, nakal dan suka buat masalah, saya di pilih jadi regu nyanyi. Hehe,,,,, awal nya saya menolak tapi ahir nya saya menerima tawaran nya, di kelas saya yang terpilih jadi regu nyanyi adalah saya ( chandra ) wida, amni, dan dya mempunyai suara yang bagus dan menarik. Hahahaha,,,,,, saya dan teman teman saya yang ikut jadii pada besar kepala,,, hehehe…
CHANDRA JUNITA
Hari pertama latihan waktu itu sekitar jam 8 pagi, waktu itu karena pertama latihan kami banyak kesalahan dalam mengatur suara, tapi keran keseriusan kami hanya mengulang dua kali bernyanyi langsung bias mengtur suara , apalagi lirik yang ada nada tinggi nya. Kami membawakan 4 lagu. Yang pertama lagu hymne guru.. ya ampun menyedih kan bangettttt lagu nya.. menyentuh hati karena kami bernyanyi dengan keseriusan bangetttttttt… yang kedua laguu perpisahan … lagu ini sampe sampe membuat temen saya menangis,, walaupun hanya latihan tapi kami anngap beneran .
Terus lagu ketiga kami menyanyikan lagu yayasan karena waktu itu saya sekolah di di MTS MU’ALLIMAT. Kemudian lagu terahir kami membawakan lagu ciptaan guru saya bernama pak holid, beliau menciptakan khusus buat kami perpisahan
Tak lupa adk kelas kami juga ikut serta dalam acara tersebut, mereka tidak mau kalah dengan kami. Mereka menyanyikan lagu khusus buat kakak tercinta nya yang akan pergi meninggal kan sekolah tercintan demi perjuangan.
Saya sangat terharu ketika mendengar mereka latihan paduan suara, aduuhhhhhh.................. saya jadii pengen nangiss.. hehehehe,, tapii terlalu lebay siihh kalau saya menangis nya karang....
Selanjut nya,,,,
Hari keduaa saya latihan ,, aduhh,, suara nya makinn merdu ajj dech.. hehehe,, apalagiii di selaaa sela lagu nya ada puisii,, tambah menarik aja kedengeran nya,,, jadi saya nggak sabaran buat
CHANDRA JUNITA
perpisahan besok...... apalagi waktu pas selesei menyanyiii kan lagu hymne guru,,, terus di lanjut kan dengan baca puisi aktu itu yang baca puisi temen saya bernama hikamah,, suaraa nya luar biasa bangeeett,,,,merinding kalau denger nya jad pengen nangiss,,,,
Begituuu seteruss nya kami latihann selama 1 minggu pas,, dan makin harii makiin bagus pasti nya dan menarik juga,,,,
Hehehehehe,,, 
waktu yang sangatt di tunggu yaituu perpisahan pelepasan kelas 3 di mulai , waktu itu kami di suruh pke baju putih puticara di mulai khusus untuk regu nyanyi,,,
Saya sempet rempong waktu itu, heboh banget pas waktu acara akan di mulai karena acara kita pakai jilbab itu beda banget sama yang laind,, aduhh pokok nya lucu dahhh,
Acara pun mulai, saya waktu itu deg degan banget walaupun banyak temen temen saya tapi gak tau rasa nya demam panggung banget,, hehe.. 
Acara pertama pembukaan dengan membaca ayat suci al_quran, kemudian di lanjut kan dengan lagu yang di sampaikan oleh kelas 2,, aduhh sedih banget campur seneng hati ini..
Singkat cerita saja kami perwakilan kelas 3 mulai beranjak ke panggung,, aduh saya makin deg degan,, tapii aneh nya waktu di panggung saat kami bernyanyiii blum saja sampai akhir laguu banyak temen saya yang menangis,, saya sebener nya pengen nangis tapi saya tahan karena kalau saya menangis akan membuat suara saya jelek,, hehe jadi nya saya tahan aja,,
Sinkgkat cerita setelah acara selsai saya foto foto bersama teman teman saya dan tak lama kemudian saya pun pulang bersama ibu saya....
Sekian dulu iyyah cerita dari saya,,,,,
Sekian ekian ekian ekian ekian
CHANDRA JUNITA








                                               
ISLAM dan JARINGAN PERDAGANGAN ANTAR PULAU
    pendahuluan
Kepulauan indonesia memiliki laut dan daratan  yang luas . para nelayan pergi melaut dan pulang dengan membawa hasil tangkapan nya. Begitu juga pelabuhan terlihat lalu lalang kapal yang membongkar dan memuat barang . Sungguh menakjubkan hamparan laut yang sangat luas ciptaan tuhan. Coba kamu renungkan alam semesta, lautan dan daratan semua ciptaan nya untuk kepentingan hidup kita . marilah kita syukuri semua itu dengan menjaga lingkungan laut dan daratan sebaik-sebaik nya.
BAB I
PEMBUKAAN
Sejak lama laut telah berfungsi sebagai jalur pelayaran dan perdagangan antar suku bangsa di kepulauan indonesia dan bangsa-bangsa di dunia. Pelaut tradisonal indonesia telah memiliki keterampilan berlayar yang di pelajari nenek moyang secaraturun temurun . bagi para pelaut samudra bukan sekedar suatu bentangan air yang sangat luas . setiap perubahan warna, pola  gerak air, bentuk gelobang , jenis burung, dan ikan yang mengitari nya dapat membantu pelaut dalam mengambil keputusan atau tindakan untuk menentukan arah perjalanan. Sejak dulu mereka sudah mengenal teknologi arah angin dan musim untuk menentukan  perjalan  perayaan dan perdagangan.  Kapal  pedagang yang  berlayar  ke selatan menggunakan musim utara  dalam januari dan febuari dan kembali  lagi pulang  jika angin   bertiup dari selatan  dalam juni,juli, atau agustus. Angin musim  barat daya  di samudra hindia adalah  antara  april sampai agustus,cara yang paling  diandalkan  untuk  berlayar ketimur . mereka dapat kembali  pada musim  yang sama setelah  tinggal sembentar – tapi kebanyaan tinggal untuk berdagang- untuk menghindari musim  perubahan yang rawan badai dalam oktober dan kembali dengan musim timur laut.
Bacaan berikut akan memaparkan tentang aktivitas perdagangan antar pulau pada masa awal perkembangan islam di indonesia. Memahami aktivitas pelayaran dan perdagangan antar pulau yang membawa sertta pesan-pesan agama ini dapat menjadi pelajaran dan menambah rasa syukur terhadap tuhan yang maha esa.





BAB II
PEMBAHASAN

*       Islam dan jaringan perdagangan antar pulau

  •  Islam dan Jaringan Perdagangan Antar Pulau Jaringan perdagangan dan pelayaran antarpulau di Nusantara terbentuk karena antarpulau saling membutuhkan barang-barang yang tidak ada di tempatnya.  Untuk menunjang terjadinya hubungan itu, para pedagang harus melengkapi diri dengan pengetahuan tentang angin, , pembuatan kapal, dan kemampuan diplomasi dagang.  Dalam kondisi seperti itu, muncullah saudagar-saudagar dan syahbandar yang berperan melahirkan dan membangun pusat-pusat perdagangan di Nusantara.
  • Pelaut-pelaut Nusantara juga telah mengetahui beberapa rasi bintang. Ketika berlayar pada siang hari, mereka mencari pedoman arah pada pulau-pulau, gunung-gunung, tanjung-tanjung, atau letak kedudukan matahari di langit. Pada malam hari mereka memanfaatkan rasi bintang di langit yang cerah sebagai pedoman arahnya. Para pelaut mengetahui bahwa rasi bintang pari berguna sebagai pedoman mencari arah selatan dan rasi bintang biduk besar menjadi pedoman untuk menentukan arah utara. Hubungan perdagangan antarpulau di Indonesia sebelum tahun 1500 berpusat di beberapa wilayah, antara lain Samudera Pasai, Sriwijaya, Melayu, Pajajaran, Majapahit, Gowa-Tallo, Ternate, dan Tidore.
  •  Wilayah Nusantara menyimpan berbagai kekayaan di darat dan di laut. Sumber daya alam ini sejak dulu telah dimanfaatkan untuk keperluan sendiri dan diperdagangkan antarpulau atau antarnegara. Barang dagangan utama yang mendapat prioritas dalam perdagangan antarpulau, yaitu a.lada, emas, kapur barus, kemenyan, sutera, damar madu, bawang putih, rotan, besi, katun (Sumatera); b.beras, gula, kayu jati (Jawa); c.emas, intan, kayu-kayuan (Kalimantan); d.kayu cendana, kapur barus, beras, ternak, belerang (Nusa Tenggara); e.emas, kelapa (Sulawesi); dan f. perak, sagu, pala, cengkih, burung cenderawasih, perahu Kei (Maluku dan Papua).
  •  Rasi bintang biduk besar dan rasi bintang pari. Pada saat ini cara perdagangan dilakukan melalui system barter (tukar menukar barang dengan barang). Sistem barter umumnya dilakukan oleh para pedagang daerah pedalaman. Hal ini disebabkan kegiatan komunikasi dengan daerah-daerah luar kurang lancer.
  •  Beberapa macam mata uang yang telah beredar pada saat itu adalah 1.Drama (Dirham), mata uang emas dari Pedir dan Samudera Pasai; 2.Tanga, mata uang perak dari Pedir; 3.Ceiti, mata uang timah dari Pedir; 4.Cash (Caxa), mata uang emas di Banten; 5.Picis, mata uang kecil di Cirebon; 6.Dinara, mata uang emas dari Gowa-Tallo; 7.Kupa, mata uang emas kecil dari Gowa-Tallo; 8.Benggolo, mata uang timah dari Gowa-Tallo; Tumdaya, mata uang emas di Pulau Jawa; dan 10.Mass, mata uang emas di Aceh Darussalam. Mata uang asing yang telah digunakan dalam kegiatan perdagangan di Nusantara antara lain Real (Arab); Yuan dan Cash (Cina).
  •  Para pedagang Nusantara, baik dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku, maupun pulau-pulau lain telah berjasil menjalin hubungan dagang bandar-bandar, seperti Malaka dan Johor di Semenanjung Malaka; Pattani, dan Kra di Thailand; Pegu di Myanmar (Birma); Campa di Kamboja; Manila di Filipina; Brunei dan bandar-bandar lain. Perahu yang dipakai dalam pelayaran di masa lalu.

  •  B. PERAN KEPULAUAN INDONESIA DALAM PERDAGANGAN DAN PELAYARAN DI ASIA TENGGARA SAMPAI ABAD KE-18
  • Munculnya pusat-pusat perdagangan Nusantara disebabkan adanya kemampuan sebagai tempat berikut ini:
  •  1.Pemberi bekal untuk berlayar dari suatu tempat ke tempat lain.
  •  2.Pemberi tempat istirahat bagi kapal-kapal yang singgah di Nusantara.
  • 3.Pengumpul barang komoditas yang diperlukan bangsa lain.
  • 4.Penyedia tempat pemasaran bagi barang-barang asing yang siap disebarkan keseluruh Nusantara.
  •  Peranan Sriwijaya sebagai salah satu pusat perdagangan dan pelayaran di Asia Tenggara umumnya dan Nusantara khususnya, kemudian digantikan oleh Kesultanan Samudera Pasai sejak abad ke-13.

Perdagangan antarpulau di Indonesia pada masa kuno
Kawasan nusantara terdiri dari beribu-ribu pulau yang memanjang dari barat sampai ke timur. Diantara pulau satu dengan lainnya itu telah terjalin hubungan yang berlangsung sejak dulu, diantaranya hubungan perdagangan, terutama pada masa kerajaan-kerajaan Islam nusantara. Berlangsungnya interaksi perdagangan antara lain harus didukung pengetahuan tentang angin. Indonesia yang diapit dua benua dan dua samudera besar, wilayahnya dilalui garis khatulistiwa, sehingga Indonesia memiliki iklim muson, yaitu iklim yang ditandai pergantian arah angin yang berlangsung selama enam bulan sekali di daerah khatulistiwa. Dengan memanfaatkan pengetahuan tentang perubahan arah angin, maka di sekitar bulan September-Oktober kapal-kapal yang berada di sebelah timur akan berlayar ke sebelah barat. Sebaliknya, pada sekitar bulan Maret-April kapal-kapal berlayar dari barat ke arah timur.

Semula kegiatan perdagangan di nusantara bersifat insidental, namun lambat laun terjadi perubahan menjadi kegiatan yang berlangsung terus menerus, ramai, dan semakin menguntungkan. Dengan demikian muncullah beberapa pusat perdagangan yang dimiliki kerajaan-kerajaan yang wilayahnya menjangkau pantai. Adapun pusat-pusat perdagangan sebelum tahun 1500 antara lain berpusat di sumatera tengah abad ke-5/6, sriwijaya abad ke-7/14, melayu abad ke-14, bali abad ke-11, pajajaran abad ke-11, pajajaran abad ke-8 sampai ke-16, majapahit abad ke-13/14, gowa-tallo abad ke-2, ternate dan tidore abad ke-13, samudera pasai abad ke-13, dan sebagainya.

Kegiatan perdagangan yang berlangsung pada masa itu dilakukan dengan cara sistem barter (tukar menukar barang dengan barang). Sedikit sekali penduduk yang telah melakukan tukar menukar dengan menggunakan uang. Sistem barter umumnya dilakukan para pedagang dari daerah pedalaman. Sebab, kegiatan komunikasi dengan daerah-daerah luar kurang begitu lancar. berlainan dengan di pedalaman, masyarakat daerah pesisir pantai telah menjalin hubungan yang baik dengan pihak luar, sehingga sebagian besar penduduk telah menggunakan mata uang dalam kegiatan perdagangan.
Pola Perdagangan dan pelayaran Antar Pulau di Indonesia.
   Jaringan perdagangan dan pelayaran antar pulau di Indonesia telah dimulai sejak abad pertama Masehi. Bahkan pada abad ke-2, Indonesia telah menjalin hubungan dengan India sehingga agama Hindu masuk dan berkembang. Sejak abad ke-5, Indonesia telah menjadi kawasan tengah yang dilintasi jalur perdagangan laut antara India dan Cina. Jalur perdagangan tersebut yang dikenal dengan nama Jalur Sutra Laut (Jalan Sutera lama/kuno via darat).
Jalur perniagaan dan pelayaran tersebut melalui laut, yang dimulai dari Cina melalui Laut Cina Selatan kemudian Selat Malaka, Calicut: sekarang Kalkuta (India), lalu ke Teluk Persia melalui Syam (Syuria) sampai ke Laut Tengah atau melalui Laut Merah sampai ke Mesir lalu menuju Laut Tengah.

Indonesia, melaui selat Malaka, terlibat dalam perdagangan dengan modal utama rempah-rempah (komoditas utama), seperti lada dari Sumatera, cengkeh dan pala dari Indonesia Timur, dan jenis kayu-kayuan dari Nusa Tenggara. Posisi Indonesia yang strategis dan hasil sumber daya alam yang berlimpah menyebabkan Indonesia mampu menjadi salah satu pusat perdagangan yang penting di jalur dagang antara Asia Timur – Asia Barat (Timur Tengah dan semenanjung Arab), dengan Selat Malaka yang menjadi pusat-pusat dagang atau pelabuhan-pelabuhan dagangnya.
Sekitar abad ke-7 hingga abad ke-14, ada dua kerajaan besar yang telah mampu menguasai perairan atau perniagaan di Nusantara, yakni Kerajaan Sriwijaya (Sumatera) dan Kerajaan Majapahit (Jawa). Keberhasilan ini karena kemampuan kedua kerajaan tersebut mendominasi bahkan memonopoli jaringan perdagangan di Selat Malaka. Perlu diketahui, bahwa Selat Malaka mempunyai posisi strategis baik secara geografis, iklim/cuaca, maupun secara politis dan ekonomi. Itu sebabnya Selat Malaka merupakan “kunci” penting. Dengan demikian, perdagangan dan pelayaran di Nusantara bahkan jaringan dagang internasional Asia di dominasi oleh dua Kerajaan bercorak Hindu-Budha tersebut dalam periode yang berbeda.
Sekitar abad ke-15 (setelah Majapahit runtuh), telah muncul kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di Nusantara, dan yang juga akan melanjutkan tradisi perdagangan dan pelayaran di Nusantara. Walaupun Majapahit runtuh, namun pelabuhan-pelabuhan Tuban dan Gresik (di pesisir utara Jawa) tetap berperan sebagai bandar transito dan distribusi penting, yaitu sebagai gudang sekaligus penyalur rempah-rempah asal Indonesia Timur (Maluku). Bahkan, Tuban berkembang menjadi bandar terbesar di Pulau Jawa. Perkembangan perdagangan dan pelayaran di perairan Jawa tersebut memacu munculnya pelabuhan-pelabuhan baru seperti pelabuhan Banten, Jepara dan Surabaya.
Pada abad ke-15 sampai awal abad ke-16, jalur perdagangan di asia Tenggara diwarnai oleh dua jalur besar, yaitu jalur Cina-Malaka dan jalur Maluku-Malaka. Jalur perdagangan antara Maluku-Malaka mendorong terjadinya perdagangan dan pelayaran antar pulau di Indonesia. Jalur Maluku-Malaka ramai karena banyaknya para pedagang yang hilir-mudik. Orang-orang Jawa misalnya, ke Maluku membawa beras dan bahan makanan yang lain untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Mereka ke Malaka, dengan ditambah beras, membawa rempah-rempah dari Maluku, dan sebaliknya dari arah Malaka membawa barang-barang dagangan yang berasal dari luar (pedagang-pedagang Asia). Berkat komoditas “beras” dan letak strategis antara Maluku dan Malaka, Jawa menjadi kekuatan yang diperhitungkan di dalam perdagangan dan pelayaran di Nusantara. Terutama setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, Jawa yang kemudian akan memainkan peranan penting dalam perdagangan dan pelayaran di Nusantara. Terutama keberadaan pelabuhan atau bandar dagang Banten, yang akan mengambil peran penting di dalam perdagangan di Jawa dan Nusantara.Sebelum bangsa Barat masuk ke Indonesia, bangsa Indonesia telah menguasai perdagangan dan pelayaran Nusantara. Perdagangan dan pelayaran saat itu bersifat antar pulau, yakni antara Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan pulau-pulau di bagian timur, terutama Maluku. Perdagangan dan pelayaran yang berkembang sebelum masuknya bangsa Barat ke Asia Tenggara maupun ke Indonesia itu telah membentuk pusat-pusat kekuasaan. Disamping Malaka sebagai pusat perdagangan dan juga pusat kekuasaan, maka terbentuk pula pusat-pusat kekuasaan lain seperti Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Banten, Ternate, dan Tidore, yang juga merupakan pusat-pusat kekuasaan yang bercorak Islam di Nusantara. Di Indonesia Timur, pelabuhan penting adalah Ternate dan Tidore. Barang dagangan yang dihasilkan adalah cengkih, sedangkan kayu cendana diperoleh dari pulau-pulau sekitarnyaDi bagian Barat Indonesia, bandar-bandar yang penting seperti Pasai/Aceh, Pedir, Jambi, Palembang, Barus, Banten, dan Sunda Kelapa. Pelabuhan-pelabuhan tersebut kebanyakan mengekspor lada. Pelabuhan-pelabuhan di pantai Barat Sumatera juga menghasilkan barang dagangan lain seperti kapur barus, kemenyan, sutera, madu, dan damar.
*      Pusat-Pusat Perdagangan serta Jalur Pelayaran Setelah Jatuhnya Malaka. Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511), pedagang-pedagang Islam memindahkan kegiatannya ke pelabuhan-pelabuhan lain. Dengan jalan demikian, mereka tetap dapat melanjutkan usaha perdagangannya secara aman. Sehingga, penyaluran komoditas ekspor (rempah-rempah) dari daerah Indonesia ke daerah Laut Merah tatap dapat dikuasai.
Pusat-pusat perdagangan dan kekuasaan yang sebelum Malaka jatuh sudah ada kemudian menjadi berkembang pesat. Pusat-pusat perdagangan dan kekuasaan yang berkembang pesat setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 antara lain, Aceh, Banten, Demak, Tuban, Gresik, Makasar, Ternate dan Tidore.
Kesimpulan
 Pedagang-pedagang Islam yang konflik dengan pedagang-pedagang Portugis menyingkir ke Aceh, Banten, dan Makasar. Mereka tetap melakukan perdagangan dan pelayaran dengan pedagang-pedagang luar. Karena jalur melalui Selat Malaka sudah dikuasai Portugis, maka mereka membuka jalur perdagangan baru melalui sepanjang Pantai Barat Sumatera. Pedagang-pedagang Islam berangkat dari bandar Banten lalu masuk selat Sunda terus berlayar ke luar melalui pantai barat Sumatera. Sebaliknya, Banten juga didatangi pedagang-pedagang dari luar seperti Gujarat, Persia, Cina, Turki, Myanmar Selatan, dan Keling.
Kapal-kapal yang berasal dari Banten ataupun ke Banten banyak juga yang singgah ke Aceh. Sementara itu, pedagang-pedagang Islam dari Malaka juga banyak yang mengalihkan kegiatannya ke Aceh sebagai akibat jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Sehingga Aceh juga berkembang menjadi pusat perdagangan dan pusat kekuasaan Islam. Sedangkan di bagian Timur, ada dua pusat perdagangan dan kekuasaan Islam yang penting, yakni Ternate dan Tidore.




 BY: Chandra Junitha




;;
Diberdayakan oleh Blogger.

By :
Free Blog Templates